2013/04/03

Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَـٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌۭ شِدَادٌۭ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim/66:6)

Dalam kehidupan ini tak semua anak berkembang dengan didampingi orangtua. Ada yang memang karena yatim/piatu, atau memang karena terbuang, atau juga terpaksa jauh dari orangtuanya. Kehidupan tak selalu ideal, sungguh beruntung anak-anak yang dapat berkembang dengan kedua orangtuanya. Maka itu jagalah kebersamaan selama kesatuan keluarga masih utuh. Karena sebagian anak-anak yang mungkin sebagian besar, harus hidup tanpa bimbingan yang semestinya, walau mungkin kedua orangtuanya masih lengkap.

Anak-anak akan mencontoh tiap apa yang dipelajarinya, terutama dari orangtua/pembimbingnya. Jangan heran jika anak bersifat pemarah, mungkin karena dia melihat banyak kemarahan dalam hidupnya. Dan jangan heran jika anak menjadi bebal atau pembangkang, mungkin karena dia melihat banyak pengabaian dan kebohongan dalam hidupnya. Seperti kertas putih, masih bisa tertulis apapun bagi siapa saja yang ingin menorehkan tinta.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا ‏ ‏تُنْتَجُ ‏ ‏الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً ‏ ‏جَمْعَاءَ ‏ ‏هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ ‏ ‏جَدْعَاءَ ‏

Rasulullah saw. bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan seekor anak tanpa cacat, apakah kamu menemukan kekurangan dalam tubuhnya? (HR. Abu Hurairoh, Muslim, At-Tirmizi, Abu Dawud)

Orangtua atau para pembimbing anak biasanya merasa yang lebih benar dari si anak. Enggan menerima kesalahan diri, dan menganggap anak seharusnya menurut saja. Tidak begitu, yang jelas anak akan mempelajari sifat menang sendiri dari contoh yang dilihatnya. Jadi akan ada dua kemungkinan, anak akan belajar untuk selalu menang walaupun salah, atau anak akan merasa terintimidasi karena tak bisa menang walau dia memang benar. Bimbingan yang seperti itu tidak baik untuk perkembangan anak, karena tak ada kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan diri secara positif.

Islam mengajarkan amat banyak akhlaq mulia, seperti: kesabaran, ketabahan, kesyukuran, keadilan, pengertian, dan pengorbanan. Kemauan anak untuk mau berbagi dengan yang lainnya tak akan datang jika tak diajarkan untuk mau kehilangan sesuatu yang dia sukai. Juga ketika sedang bermain, anak tidak akan mau sportif jika tak diajarkan persamaan dan sikap tenggang rasa. Ajaran Islam menitik beratkan pembentukan akhlaq mulia, agar dalam kehidupan semua orang menjadi lebih baik. Dengan motivasi untuk menang sebanding dengan kemauan untuk kalah, keinginan untuk meraih banyak sebanding dengan keinginan untuk memberi banyak, dan keinginan untuk berteman banyak sebanding dengan banyaknya berbuat kebaikan. Tapi mungkinkah itu semua terjadi jika pembimbingnya tak mau berusaha mengerti diri sang anak?

Tak kenal maka tak sayang, itulah kata pepatah. Walaupun anak-anak itu adalah anak sendiri, tapi seberapa banyakkah orangtua yang benar-benar mengenal anaknya? isi hati seorang anak mirip dengan isi hati orang dewasa. Punya keinginan, punya kesukaan, punya keengganan, bisa tersanjung, dan juga bisa tersakiti. Hanya saja anak kecil lebih banyak mencontoh karena belum terbentuk benar, tak seperti orang dewasa yang telah terbentuk kepribadiannya. Maka berhati-hatilah bersikap di depan anak-anak, karena segala apapun akan dijadikan bahan contoh baginya.

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَـٰنَ ٱلْحِكْمَةَ أَنِ ٱشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌۭ ﴿١٢﴾ وَإِذْ قَالَ لُقْمَـٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِي ﴿١٣﴾ وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَ‌ٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍۢ وَفِصَـٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَ‌ٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِي ﴿١٤﴾ وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۭ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًۭا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿١٥﴾ يَـٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍۢ مِّنْ خَرْدَلٍۢ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَـٰوَ‌ٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِي ﴿١٦﴾ يَـٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَ‌ٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ ﴿١٧﴾ وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍۢ ﴿١٨﴾ وَٱقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَٱغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلْأَصْوَ‌ٰتِ لَصَوْتُ ٱلْحَمِي ﴿١٩﴾

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezholiman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (QS. Lukman/31:12-19)

Islam mengajarkan orangtua dan anak agar saling selalu berbuat baik, berkasih sayang dan pengertian, juga tegas pada perbuatan salah. Banyak juga orangtua yang saking sayangnya kepada anak tak berani bertindak tegas kepada anak jika salah. Dalam Islam, ajaran yang paling utama adalah tawhid, lalu aqidah, lalu lainnya seperti akhlaq, syariah, dan muamalah. Sejak kecil anak sudah harus diajarkan untuk mengenal Allah, dan hubungan manusia dengan Allah. Karena tawhid dalam Islam adalah pondasi akar dari segala aspek kehidupan seorang muslim. Bentuk pelanggaran dalam tawhid lebih berat dari pelanggaran akhlaq, syariah, atau muamalah. Karena Allah masih mengampuni berbagai dosa kecuali dosa syirik, dan syirik adalah bentuk dari pelanggaran tawhid. Kemudian pondasi tawhid itu harus diperkokoh dengan aqidah yang baik dan benar.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَ‌ٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisas/4:48)

Demikian pentingnya proses pembentukan anak karena sedemikian polos dan tergantung oleh orang yang membimbingnya. Pembimbing yang senantiasa dekat dengan Allah akan mengajak anak-anak untuk selalu dekat dengan Allah, bahkan pada setiap sendi kehidupannya. Pembimbing yang dekat dengan thogut akan mengajak anak-anak untuk selalu berbuat apapun yang menurut dirinya baik bukan apa yang menurut Allah dan RosulNya baik, serta berani melakukan pelanggaran-pelanggaran kepada Allah dan RosulNya.

No comments: